BCO.CO.ID – Meskipun pandemi Covid-19 masih tinggi hingga tembus angka lebih dari satu juta kasus di Indonesia sejak Maret 2020 lalu dan telah menyebar di hampir seantero jagat bumi, kini beredar virus yang disebut-sebut sebagai calon pandemi dari Asia. Virus ini disebut Virus Nipah yang berasal dari hewan kelelawar seperti virus SARS-CoV-2 atau coronavirus disease 2019 (Covid-19).

Dikutip dari berbagai sumber pada Kamis 28 Januari 2021, Virus Nipah berpotensi menjadi pandemi baru di Asia karena sifatnya yang sangat cepat menular dan mematikan. Angka kematiannya berkisar antara 40 persen hingga 75 persen. Hal ini membuat para ilmuwan khawatir virus tersebut menjadi pandemi baru setelah Covid-19.

Berdasarkan laporan Center of Disease Control Amerika Serikat (CDC), virus ini pertama kali diidentifikasi dan diisolasi pada 1999 di Malaysia. Virus ini menyerang sebuah desa di dekat Sungai Nipah di Semenajung Malaysia. Beberapa penduduk desa divonis terinfeksi virus Nipah setelah beberapa peternak babi dan orang-orang yang berhubungan dekat dengan babi mengalami penyakit pernafasan dan ensefalitis (pembengkakan otak). Babi ini diperkirakan terinfeksi dari kelelawar.

Selain itu juga, Virus Nipah masuk ke dalam 10 besar daftar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tinjauan patogen yang memicu kedaruratan kesehatan masyarakat.

Oleh sebab itu, Kementerian Kesehatan RI ikut mewaspadai kekhawatiran para ilmuwan soal potensi virus tersebut menjadi pandemi baru. Sebab, angka kematian virus Nipah disebut sangat tinggi.

“Indonesia harus selalu waspada terhadap potensi penularan virus nipah dari hewan ternak babi di Malaysia melalui kelelawar pemakan buah,” kata Didik Budijanto, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes.

Didik menyebut, dari beberapa hasil penelitian menunjukkan adanya kelelawar buah bergerak secara teratur dari Semenanjung Malaysia ke Pulau Sumatera khususnya Sumatera Utara yang dekat dengan Malaysia.

Dikatakan, di tengah pandemi COVID-19 kemungkinan penyebaran virus Nipah melalui kelelawar tak bisa dihindari. Termasuk melalui perdagangan babi ilegal dari Malaysia ke Indonesia. Meski begitu, ia memastikan bahwa hingga saat ini belum ada temuan kasus virus Nipah di Indonesia.
“Sampai saat ini kejadian infeksi virus nipah belum pernah dilaporkan di Indonesia,” jelasnya.

Berdasarkan catatan WHO, berikut laporan kasus virus Nipah.
– 1998 di Malaysia
Ada 265 kasus dilaporkan, 105 pasien meninggal dunia (angka kematian 40 persen).
– Februari 2001, di Siliguri, India
Ada 66 kasus dilaporkan, 45 orang dinyatakan meninggal (angka kematian 68 persen).
– Januari hingga Maret 2005 Tangail, Bangladesh
12 kasus dilaporkan, 11 orang dinyatakan meninggal (angka kematian hingga 92 persen).
– April 2007, India
Ada 5 kasus dilaporkan dan mereka meninggal dunia (100 persen kematian).
Sepanjang penyebaran virus Nipah di dunia sejak 1998 hingga 2008, WHO mencatat ada 477 kasus dan 248 orang meninggal.

Sementara berikut inilah tanda-tanda atau gejala saat terinfeksi virus Nipah:
• Demam
• Sakit kepala
• Batuk
• Sakit tenggorokan
• Sulit bernapas
• Muntah
Berikut gejala infeksi virus Nipah parah:
• Disorientasi, mengantuk, atau kebingungan
• Kejang
• Koma
• Pembengkakan otak (ensefalitis)
• Kematian.