CILEGON, BCO.CO.ID – Untuk menjaga stok barang dari hasil pertanian terutama varietas jagung ungu, para petani di Citangkil memiliki cara tersendiri guna menjaga pasokan dan harga yang stabil di pasaran.
Hal ini tentunya dapat memberikan imbas yang positif guna menjaga produktivitas hasil alam meskipun pemasarannya masih kurang.
“Karena belum familiar di masyarakat, akhirnya kita inisiatif saja sama petani. Jadi kalau ada yang mau kita panen, ini juga biar menjaga harga aja biar tetap stabil,” ujar Sofi Nur Prihatini, Petugas Penyuluh Pertanian Kecamatan Citangkil, kepada BCO Media, Sabtu 16 Juni 2021.

Sofi mengungkapkan, selama ini ia bersama petani baru mampu menjual hasil alam yang ditanam melalui orang yang sudah menjadi langganannya. Ditanya soal penjualan melalui online, Sofi mengaku, pihaknya tidak yakin bisa memenuhi kebutuhan pelanggan. Sebab, jika dijual melalui toko online dapat mempengaruhi stok ataupun rasa dari jagung ungu.
“Jadi enggak tiap hari panennya dan kalau setiap hari pelanggan cenderung bosan. Kalau di jual online, kita engga yakin stoknya ada terus. Lagi pula kalau online pengirimannya pasti jauh nanti mempengaruhi kualitas rasa jagungnya. Enggak fresh istilahnya,” terang Sofi.
Di tempat yang sama, Waryono petani jagung ungu asal Lingkungan Kubang Sepat, Kelurahan/Kecamatan Citangkil mengatakan, ia baru tiga kali menanam jagung ungu dengan hasil yang tidak menentu karena untuk menjaga pasokan dan harga yang stabil. “Kalau panennya sesuai pesanan aja, dijual ke kelompok tani,” kata Waryono.
Para petani berharap, pemerintah bisa memberikan solusi terbaik ataupun ruang yang mewadahi hasil produksi jagung ungu yang ditanam oleh para petani di wilayah Cilegon ini. []
