Sabtu, Mei 30, 2026
BerandaCuacaIni Penjelasan BMKG Soal Suhu di Cilegon Lebih Dingin

Ini Penjelasan BMKG Soal Suhu di Cilegon Lebih Dingin

CILEGON, BCO.CO.ID – Dalam beberapa hari ini, suhu udara di Kota Cilegon menjadi lebih dingin terutama pada malam dan pagi hari. Padahal biasanya, Kota Cilegon yang dikenal sebagai wilayah industri memiliki suhu udara cukup panas. Selain itu di beberapa lokasi di wilayah ini kerap diselimuti kabut dengan intesitas tipis hingga sedang.

Menanggapi hal tersebut, Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Serang Tarjono memaparkan, Kota Cilegon yang masuk di Zona 58 bersama wilayah Tangerang dan Serang saat ini telah memasuki musim kemarau pada Dasarian II di Bulan Mei. Namun berdasarkan prakiraan musim, saat ini musim kemarau di wilayah Zona 58 cenderung basah alias masih sering terjadi hujan lebat disertai angin dan petir.

“Karena sering terjadi hujan, jadi mungkin mempengaruhi suhu udara menjadi lebih dingin. Kita tahu juga di Cilegon itu panasnya bukan karena atmosfer saja, tetapi juga faktor kawasan industri,” terang Tarjono, Rabu 23 Juni 2021.

Sementara untuk fenomena kabut yang kerap menyelimuti beberapa wilayah, lanjut Tarjono, disebabkan oleh pertemuan dua suhu udara usai terjadinya hujan. Dimana pada saat itu, suhu permukaan tanah masih dalam kondisi hangat dan suhu udara menjadi dingin sehingga menimbulkan kabut.

Selain itu dijelaskan, apabila intesitas hujan sudah menurun maka suhu udara di wilayah tersebut dapat kembali normal. Tarjono mengatakan, meskipun kondisi udara di Cilegon menjadi lebih dingin namun hal tersebut masih dianggap wajar lantaran tidak sampai menyentuh angka di bawah 16° Celcius. “Masih dalam tahap wajar, sebelum menyentuh kurang dari 16° Celcius berarti belum bisa dikatakan ekstrem,” jelasnya.

Masih kata Tarjono, fenomena kemarau basah ini juga dipengaruhi oleh iklim global dimana terpantau suhu udara di permukaan laut Samudera Pasifik lebih rendah dibanding wilayah barat Indonesia sehingga beberapa wilayah di Indonesia Barat dan Indonesia Timur masih mendapatkan suplay air meskipun tidak sebesar saat fenomena La Nina pada Desember 2020 hingga Maret 2021. “Fenomena kemarau basah ini memang dipengaruhi oleh iklim global karena terpantau suhu udara di permukaan laut Pasifik lebih dingin atau lebih rendah dibanding di wilayah barat indonesia. jadi kita mendapat suplay air darisana,” pungkasnya. []

RELATED ARTICLES

Most Popular

- Advertisment -

Recent Comments