Selasa, Juli 16, 2024
BerandaPolitikMahkamah Konstitusi Putuskan Pemilu 2024 Tetap Gunakan Sistem Coblos Caleg

Mahkamah Konstitusi Putuskan Pemilu 2024 Tetap Gunakan Sistem Coblos Caleg

CILEGON.BCO.CO.ID – Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan sistem Pemilu 2024 digelar secara proporsional terbuka. Artinya, pemilih bisa mencoblos caleg seperti yang berlaku pada pemilu lalu. MK juga menolak permohonan uji materi pasal dalam UU Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu yang mengatur tentang sistem pemilihan umum (pemilu) proporsional terbuka dengan putusan perkara Nomor 114/PUU-XX/2022.

“Menolak permohonan para pemohon untuk seluruhnya,” ucap Anwar Usman, hakim ketua dalam sidang pembacaan putusan yang digelar di gedung MK, Jakarta, dikutip dari cnnindonesia.com, Kamis 15 Juni 2023.

Dalam putusan itu, MK mempertimbangkan implikasi dan implementasi penyelenggaraan pemilu tidak semata-mata disebabkan oleh pilihan sistem pemilu. Hakim konstitusi Sadli Isra mengatakan, dalam setiap sistem pemilu terdapat kekurangan yang dapat diperbaiki dan disempurnakan tanpa mengubah sistemnya.

Sadli Isra juga bilang, menurut mahkamah, perbaikan dan penyempurnaan dalam penyelenggaraan pemilu dapat dilakukan dalam berbagai aspek, mulai dari kepartaian, budaya politik, kesadaran dan perilaku pemilih, hingga hak dan kebebasan berekspresi.

Putusan ini diwarnai pendapat berbeda atau dissenting opinion dari satu hakim, yaitu hakim konstitusi Arief Hidayat.

Diketahui, permohonan uji materi diajukan pada 14 November 2022. MK menerima permohonan dari lima orang yang keberatan dengan sistem proporsional terbuka. Mereka ingin sistem proporsional tertutup yang diterapkan.

Dengan sistem proporsional tertutup, pemilih tidak bisa memilih calon anggota legislatif langsung. Adapun pemilih hanya bisa memilih partai politik, sehingga partai punya kendali penuh menentukan siapa yang duduk di parlemen.

Para pemohon terdiri dari Demas Brian Wicaksono (pengurus PDIP cabang Banyuwangi), Yuwono Pintadi; Fahrurrozi (Bacaleg 2024); Ibnu Rachman Jaya (warga Jagakarsa, Jakarta Selatan); Riyanto (warga Pekalongan); dan Nono Marijono (warga Depok). Mereka memilih pengacara dari kantor hukum Din Law Group sebagai kuasa.

Selain itu dari seluruh partai politik di DPR, hanya PDIP yang ingin sistem proporsional tertutup diterapkan. Sementara parpol lainnya meminta agar MK tidak mengubah sistem pemilu.

Mayoritas partai politik menegaskan sistem pemungutan suara yang dipakai dalam pemilu adalah kewenangan pembuat undang-undang yakni presiden dan DPR. Karena itu, mereka merasa MK tidak berwenang untuk mengubahnya lewat putusan uji materi. []

RELATED ARTICLES

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Recent Comments