Rabu, April 22, 2026
BerandaCuacaGelombang Tinggi di Perairan Banten, Ini Penjelasan Lengkap BMKG

Gelombang Tinggi di Perairan Banten, Ini Penjelasan Lengkap BMKG

CILEGON.BCO.CO.ID – Dalam beberapa hari ini, sejumlah wilayah di Banten dilanda hujan kategori ringan hingga lebat. Tak hanya hujan, cuaca ekstrem yang ditandai angina kencang dan petir kerap terjadi saat hujan mengguyur.

Dari data yang diterima BCO Media, BMKG Stasiun Serang mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi untuk beberapa wilayah di Banten. Peringatan itu berlaku mulai 06-07 Februari 2022 , adapun beberapa wilayah yang berpotensi mengalami gelombang tinggi yakni Perairan Selat Sunda Bagian Selatan (Perairan Anyer-Perairan Pandeglang Selatan) berada pada titik garis merah atau ketinggian gelombang dari 4.0-6.0 meter. Kemudian, Perairan Samudera Hindia Perairan Selatan Banten masih di garis merah dan terakhir di Perairan Selatan Banten atau wilayah Kabupaten Lebak juga berada di garis merah.

Sementara untuk Perairan Selat Sunda Bagian Utara (Ciwandan-Merak) berada di garis kuning dengan perkiraan gelombang berkisar pada ketinggian 1.25-2.5 meter. Meski begitu, hal ini tentunya sangat beresiko tinggi pada kapal nelayan maupun kapal tongkang.

iklan

Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Serang Tarjono menyampaikan, saat ini wilayah Banten berada pada puncak musim hujan. BMKG memantau adanya pertemuan angin di sebelah barat Sumatera.

“Seperti kita ketahui saat ini kita berada pada puncak musim hujan, dan terpantau adanya pertemuan angin di sebelah barat Sumatera, dengan kecepatan angin berkisar 5-30 knot. Wilayah yang terpantau kencang disekitar selat Sunda dan Selatan Banten,” ungkap Tarjono, kepada BCO Media, Minggu 06 Februari 2022.

Ditanya soal potensi cuaca di wilayah Penyebrangan Merak, Tarjono menjelaskan, untuk jalur penyeberangan berkisar 1,25-2,50m (Kategori Sedang). Hal ini tentunya bisa terjadi beberapa hari kedepan. “Diprediksi hingga beberapa hari kedepan. Iya, dan gangguan siklonik atau pertemuan pola angina,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, perubahan cuaca saat ini murni karena fenomena alam dari puncak musim hujan atau tidak ada kaitannya dengan erupsi Gunung Anak Krakatau yang sedang menunjukan peningkatan aktivitasnya. “Tidak ada kaitannya antara erupsi dengan cuaca ekstrem, gangguan siklonik aja,” pungkasnya. []

RELATED ARTICLES

Most Popular

- Advertisment -

Recent Comments