CILEGON.BCO.CO.ID – Badan Pencarian dan Pertolongan atau Badan SAR Nasional (Basarnas) Banten mengumpulkan sejumlah instansi keselamatan dalam rangka penyusunan rencana kontingensi kecelakaan kapal di Selat Sunda pada Rapat Koordinasi SAR Daerah di salah satu hotel di Kabupaten Serang, Rabu 2 November 2022.
Dalam kesempatan ini, turut hadir Direktorat Operasi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Pusat Andi Suherli, Kepala BMKG Stasiun Serang Muhammad Nur Huda, Kepala VTS Merak Mohammad Darsoni, Danlanal Banten Letkol Laut (P) Dedi Komarudin, Pejabat KSOP Kelas 1 Banten, perwakilan Ditpolairud Polda Banten, dan sejumlah industri pelabuhan di lintasan Selat Sunda.
Kepala Basarnas Banten Adil Triyatno menyampaikan, pada masa transisi saat ini kondisi cuaca dapat mempengaruhi lalu lintas kapal di jalur lintasan tersebut. Oleh sebab itu, pihaknya mengajak seluruh instansi agar bekerjasama dalam penanganan maupun pencegahan. “Kita merapatkan untuk masing-masing bagian ini bisa apa yang harus diperbuat, sehingga Basarnas dan instansi yang terkait saat bersinergi dalam arti bilamana terjadi kecelakaan di Selat Sunda masing-masing tahu harus berbuat apa dan punya tugasnya sehingga semua dalam keadaan terprogram. Sehingga bilamana terjadi kecelakaan,bisa secara langsung dan cepat tepat sehingga sangat efisien dalam penanganannya,” papar Adil Triyatno, Kepala Basarnas Banten.

Ia juga menyebut, jika resiko yang paling menonjol pada kecelakaan di jalur Selat Sunda adalah kebakaran kapal. Selain itu, pada masa transisi ini pihaknya meningkatkan kewaspadaan terkait imbas dari cuaca ekstrem. “Kondisi di Bulan Desember cuaca sangat ekstrem dimungkinkan ada kapal bertubrukan atau yang kandas,” jelasnya.
Sementara di tempat yang sama, Kepala BMKG Stasiun Serang Muhammad Nur Huda mengungkapkan, wilayah Banten saat ini sudah memasuki masa transisi dan potensi cuaca ekstrem sangat tinggi yang dapat menimbulkan gelombang luat yang cukup besar dan bisa berbahaya bagi jalur pelayaran. “Tentu kalau cuaca ekstrem efeknya sangat bahaya yah, kalau angina kencang nanti timbulnya ada gelombang yang sangat tinggi,” ucap Nur Huda.
Dijelaskan, di masa peralihan yang memasuki musim hujan kondisinya sangat rawan terhadap bahaya dan dapat mempengaruhi perjalan bagi kapal maupun nelayan. “Untuk saat saat ini iya, karena di masa peralihan memasuki musim hujan kondisi itu yang biasanya cepat sekali terjadi. Biasanya juga mempengaruhi jarak pandangnya pendek karena hujannya sangat besar, nah itu biasanya juga akan berpengaruh pada pelayaran,” ungkapnya. []
