BCO.CO.ID – Seorang lansia bernama Badri (62), warga Kampung Baru Tegal Wangi, Kelurahan Rawa Arum, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon, hanya bisa terbaring lemah di atas kasur di rumahnya yang nyaris ambruk.
Pantauan BCO Media, Badri setiap hari hanya tinggal sendiri di rumah tua yang atapnya sudah rusak parah dan sewaktu-waktu bisa ambruk. Ia tinggal di tempat tersebut sudah lama setelah berpisah dengan mantan istrinya. Sementara ketiga anak perempuannya, ikut tinggal dengan mantan istrinya.
Selama itu pula, untuk makan sehari-hari ia hanya mengandalkan kiriman dari anak-anak atau dari tetangga di dekat rumahnya tersebut. Kondisi ini semakin parah, ketika Badri jatuh sakit dan sempat di rawat di rumah sakit.
Satu per satu bagian atap rumah tua yang lapuk dimakan usia itu, jatuh ke tanah hingga membuat rumah yang ditempatinya sering mengalami bocor saat hujan turun. Badri juga sempat di rawat oleh anaknya, namun karena merasa tidak betah, Badri kemudian pulang dan tinggal di rumah yang jauh dari kata layak huni.
Anak ketiga Badri, Dian Herdianti bilang, ia dengan kakak-kakaknya selalu mengutamakan kesehatan ayahnya. Namun karena keterbatasan biaya, kesehatan ayahnya mulai menurun. Selain itu, ia juga mengaku ingin memperbaiki rumah ayahnya namun tak ada biaya. “Keinginan tentu aja, bahkan kita juga yang nambal atapnya pakai asbes. Cuma karena keterbatasan, jadi belum ada biaya lagi,” kata Dian Herdianti, kepada BCO Media, Senin 5 Mei 2025.
Dian berujar, ia bersama kakaknya tidak bisa melakukan perbaikan terhadap rumah ayahnya itu lantaran penghasilan mereka hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Menurutnya, ia sudah tiga hari terakhir menemani ayahnya tinggal di rumah tersebut. Hal itu ia lakukan, demi menjaga orangtuanya sendiri. “Kondisi kami anak-anaknya juga ya begitu, cukup untuk sehari-hari aja,” ujarnya.
Di tempat yang sama, Ketua RT 01/07 Tolha Sobirin menyampaikan, Badri sakit parah sudah dua bulan terakhir. Ia juga pernah mengajukan bantuan kepada pihak-pihak terkait seperti kelurahan maupun industri melalui program TJSL untuk memperbaiki rumah warganya itu, namun hingga saat ini belum ada respon sementara kondisi rumah semakin rusak. “Saya sudah berusaha, sudah tiga kali mengajukan bahkan sampai kemarin belum ada realisasi,” ucapnya.
Ia juga berinisiatif untuk membuka donasi demi membantu warganya itu agar bisa tinggal dengan layak di rumah tersebut. “Kami rencana mau musyawarah sama warga buat mengumpulkan donasi, sementara kita perbaiki atapnya dulu biar enggak bocor sambil berusaha mencari bantuan lain yang sifatnya bisa segera,” terangnya.
Kondisi ini seharusnya tidak terjadi di Kota Cilegon, yang dikenal sebagai kota industri atau kota petro dollar. Seperti diketahui, di dekat tempat Badri tinggal banyak pabrik-pabrik besar yang menanamkan modalnya mencapai miliaran sampai triliunan rupiah, namun hal ini belum bisa dirasakan manfaatnya oleh warga miskin di lokasi tersebut. []
